kado pernikahan

kado pernikahan
engkaulah bunga september itu
kelopakmu berjatuhan satusatu
mengabarkan peristiwa demi peristiwa

maka demi september yang biru
berlayarlah perahu atas nama kata
bersatulah jiwajiwa atas nama cinta

kelak
di puncakpuncak masalalu akan kukabarkan lagi
tentang daundaun gugur di mei yang lembab

katakanlah kepadanya: kalimat cinta
takkan pernah selesai, seperti doa
yang dilantunkan para sufi.

pada sebuah sudut

mungkin kau tak pernah tahu
di dadaku ada api yang memercik
menjadi nyala yang berkobar
ada yang terbakar di sana, tapi bukan rasa
mungkin sebuah kata
atau airmata yang menjelma rongsokan kayu

di jalan ini dulu kita pernah menghabiskan berbotolbotol bualan
melemparkan hasrat ke atapatap pertokoan
meski selalu membentur tinggi pagar kecemasan

mungkin kau tak pernah tahu
pada sebuah sudut, aku telah mengulang kembali sebuah upacara
dan aku tak berani masuk pada sunyi yang lain
walau riuh ingatan menyengat begitu kuat

aku menyimpan namamu pada nisan itu
pada gemericik kolam dengan ricik pelan
pada sudut yang kubangun dalam alir waktu
pada perjamuan di akhir bulan.

lelaki senja

ada yang setia menanti senja
di bawah guguran detikdetik.
mungkin esok, senja kembali berkabut
tapi cakrawala tak pernah dusta
kelak, akan ada jingga
yang kembali mewarnai senja.

mendekatlah

mendekatlah!

dirindu yang mana harus kuteriakkan cinta?
sedang baitbait yang kau kirim bersama badai rindu
hanya menjelma lirih di batubatu
aku menangkap isyarat ketakberdayaan dari matamu
saat kelopak mawar menjadi pertanda musim segera
berganti

dihutan yang mana harus kubangun gubuk peristirahatan?
sedang perjalanan masih harus ditempuh dengan atau
tanpa mimpi tentang sebuah negeri
aku menangkap ketakutan dari getar suaramu
saat kalimat demi kalimat terucap menjadi nyanyian sepi
yang paling sunyi

kita telah larut berjalan
tertatihtatih menghitung luka dalam dada
haruskah kita berhenti untuk tidak bersama lagi?
sedang pengembaraan masih menunggu kaki kita
menjejak di atas tanahnya yang gersang. bukankah kau
yang berkata, "kita bisa mencipta matahari, bulan dan
bintang pada rotasi bumi tempat kita berpijak!"

mendekatlah,
dimataku masih ada mimpi kita.

narsisitas

entah pertemuan ke berapa saat kau dan aku harus saling bertanya
dengan tatap tajam dan hati kita telah saling terluka
siapa yang menyakiti siapa?
haruskah cinta melahirkan kesakitankesakitan?
sedang rindu terus membara atas namamu dan arimata menjadi
pertanda luka kita semakin memanjang

apa makna cinta bagimu?
teriakmu mengalahkan lengking peluit dari stasiun tak bernama
lantas kutemukan diriku dengan tubuh tercabikcabik tanpa siapapun
seluruh nama telah hilang tibatiba, tak menyisakan apapun
hanya percikan darah yang semakin lama semakin melebar

kekasih, inilah aku dalam kehinaan yang nyata, yang tak lagi
mampu mendekap cintamu utuh. telah kugariskan sisa
perjalanan di atas rel pengkhianatan atas nama sepi
maka padamu, kuserahkan kembali cinta
yang kau titipkan di masalalu

detik ini, aku akan kembali berdiri sebagai seseorang
yang mencintai diri sendiri.

bicara lagi angka-angka

: lelaki-lelaki juni

bicara lagi angkaangka pada jam dan kalender di atas meja
dikatakannya bahwa senja sebentar lagi tiba
tapi asbak itu masih juga memintal cemas menjadi abu
dan gelas warna biru, masih juga memadatkan kopi menjadi batu

terimalah sunyi ini
sebagai kabar dari gelap paling pengap
sebab tak ada yang bisa dilakukan lagi
selain membaca kematian lewat usia

perjalanan memahami sunyi

perjalanan memahami musim

1
sepanjang musim yang asing ini, kekasih
aku mencari cara memahami cuaca
namun cuaca, ia sepertimu, tak tertebak
aku terjebak di antara musim asing
di antara runcing angin dan terik matahari

2
telah lama kurindukan perjalanan, kekasih
menyusur kota-kota, menyusun kata-kata
namun jalan-jalan seolah menutup diri
tak ada celah untuk melangkah

3
hanya dalam kamar ini, kekasih
seluruh dinding menjadi pintu
terbuka bagi setiap perjalanan
dan musim tak lagi asing

2011